Ustadz Felix Siauw adalah salah satu Ustadz yang istiqomah mendakwahkan Islam secara kaffah. Dengan dakwahnya yang dikenal berbagai kalangan khususnya remaja, Ustadz Felix dikenal santun, cerdas dan argumentatif dalam menyampaikan dakwahnya sehingga mudah untuk dipahami.

Berikut adalah cuitan beliau dalam mengisahkan perjalanan hidupnya yang membuatnya kembali ke Islam:

  1. Walau masih berbeda aqidah dgn kedua orangtua | Alhamdulillah saya dikaruniai kemudahan dlm keluarga.
  2. Di Tahun 2002, saya menjadi Muslim setelah 18 tahun merayakan Natal | Banyak yang berubah setelah saya memahami agama Islam. 
  3. Proses berpikir yg mengantarkan saya pada Islam | Agama logis yang bisa memuaskan akal, menenangkan hati, dan sesuai fitrah.
  4. Prinsip tauhid di dlm Islam itu sederhana dan mengena | Prinsip Satu Tuhan itu menenangkan dan menentramkan.
  5. Setelah menjadi seorang Muslim tentu banyak penyesuaian yg hrs saya lakukan | Aqidah Islam tentu mengubah banyak prinsip hidup.
  6. Salah satu prinsip yg terpenting adalah penjagaan terhadap aqidah | Pengakuan bahwa Allah itu Satu dan tiada yang menyamai-Nya. 
  7. Saya memasuki Islam sekira bln Oktober 2002 | Maka ujian pertama ada di bulan Desember 2002 saat perayaan Natal keluarga. 
  8. Sulit sekali pada waktu itu utk menyampaikan pada orangtua, saya sudah menjadi seorang Muslim | Apalagi menjelaskan tentang Natal. 
  9. Terbayang sudah selaksa bantahan dan omelan yg bakal diterima | Apalagi menjelaskan bahwa saya tidak lagi ikut-ikutan Natalan. 
  10. Hanya saja saya tahu persis apa itu Natal | Bagi kaum Nasrani itu perayaan terbesar yaitu kelahiran Yesus, Tuhan Juru selamat. 
  11. Maka perayaan Natal itu bagi saya memiliki konsekuensi aqidah | Yang takkan pernah saya sampaikan selamat padanya apalagi saya ikuti. 
  12. Terbayang lagi respon yg saya terima nantinya?, dimarahi? diamuk? diusir? | Bagaimanapun juga ini prinsip aqidah yang harus sampai. 
  13. Benar saja, orangtua saya tentu tidak terima | Dgn perdebatan alot 3 hari akhirnya ke-Islam-an saya bisa mendapat tempat. 
  14. Saat itu ayah saya berucap | “Papi tidak bisa melarang kamu Muslim, tapi Papi juga tidak bisa menerima kamu Muslim”. 
  15. Sementara isak tangis ibu saya menjadi latar diskusi alot kita sepanjang 3 hari | Hati anak mana yang tak sedih melihat airmata ibunya?. 
  16. Tapi sekali lagi ini adalah aqidah yang tidak bisa ditawar | Saya menguatkan hati sambil mengingat perjuangan Saad bin Abi Waqqash. 
  17. Saya hanya berharap pada Allah bila saya bertahan dengan aqidah ini | Allah memperkenankan suatu saat kelak ayah-ibu saya Muslim. 
  18. Namun ada hal yang benar-benar sulit mereka terima | “Mengapa juga tidak boleh hanya sekadar mengucap Natal atau ikut merayakan?”. 
  19. Saya pahami cara pikir orangtua saya tentu tidak sama dengan apa yang saya pahami | Menjelaskan prinsip aqidah bukan mudah. 
  20. Bagi mereka “Selamat Natal” itu cuma sekedar ucapan | Bagi saya kata-kata “cuma” itu seringkali hasutan setan yg paling laris manis. 
  21. Walau “cuma” ucapan selamat | Saya tidak ingin mengingkari keyakinan utama bahwa Allah itu Satu dan tiada yang bersekutu dengan-Nya. 
  22. Dengan berat hati dan kelu lidah karena beratnya amanah ini | Saya mencoba menjelaskan pada kedua orangtua saya. 
  23. “Islam itu sangat menghormati Yesus (Isa) | Namun kami memuliakannya sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan”. 
  24. “Isa Ibnu Maryam disebut lebih banyak dari Muhammad di dalam Al-Qur’an | Namun kami tidak bisa menerima bahwa dia dianggap Tuhan”. 
  25. “Sedang ibunya Maryam itu wanita terbaik di dunia tersebab kesuciannya | Namun kami tidak bisa menganggapnya ibunda dari Tuhan”. 
  26. “Sedang kelahiran dari Isa Ibnu Maryam tertulis mulia di dalam Al-Qur’an | Dan keselamatan padanya selalu sepanjang masa” 
  27. “Dan salam dilimpahkan kepadaku, pada hari aku lahir, pada hari aku wafat dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Qur’an Surat 19:33). 
  28. “Kami menghormati Isa sebagaimana kami memuliakan ibunya | Juga keluarga Imran, Daud, Musa, dan Ibrahim”. 
  29. “Sulit kami merayakan atau mengucapkan yang dianggap sebagai hari lahir (natal) Tuhan Yesus (Isa) | Tidak mampu kami menyelisihi Isa” 
  30. Sedang Isa bin Maryam berpesan | “Sungguh aku ini hamba Allah, Dia memberiku AlKitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi” (QS 19:30). 
  31. Amanah sudah kami sampaikan bahwa kami tidak bisa ikuti perayaan Natal | Tidak juga mengucap “Selamat Natal” pada satu hal yang batil. 
  32. Kami mengakui dan memberi salam pada kelahiran Isa Ibnu Maryam Sang Nabi yang disucikan | Bukan salam pada hari kelahiran Tuhan. 
  33. Begitulah saya jelaskan dengan baik | Dengan perkataan lembut lagi menghormati kedua orangtua sebagaimana perintah Allah. 
  34. Alhamdulillah, sampai saat ini mereka memahami dengan baik | Bahwa toleransi Muslim adalah membiarkan perayaan mereka. 
  35. Alhamdulillah pula mereka melihat perubahan saya setelah menjadi Muslim | yg tentu lebih menghargai, menyayangi, menghormati orangtua. 
  36. Tiada kebencian pada orang non Islam | Justru karena sayang kita ingin mengajak mereka menuju cahaya Islam termasuk orangtua saya. 
  37. Tidak pernah hubungan saya-ayah, saya-ibu lebih baik dari hari ini bercanda bergurau, berkisah | Tak pernah ada ini sebelum Muslim. 
  38. Islam mengajarkan saya menghormati dan memuliakan orangtua sepenuh jiwa | Maka tak pernah ada cerita mereka protes tentang toleransi. 
  39. Karena orangtua saya tahu persis hanya karena Islam saya bisa berkasih dengan mereka | Allah yang ajarkan saya menyayangi kedua orangtua. 
  40. Alhamdulillah, Allah memudahkan saya menjaga aqidah saya | Bukan terombang-ambing tak jelas atas alasan toleransi. 
  41. Bila kita selalu baik pergaulannya setiap saat pada saudara kita non-Muslim | tidak mengucap Selamat Natal tak menjadi soalan dan masalah. 
  42. Alhamdulillah Allah sudah menunjuki kita Islam | Mudah-mudahan kita selalu menjaganya | wallahua’lam



Ketika melakukan sujud, ada 5 anggota badan yang bertumpu pada lantai (bumi), yaitu: dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut dan kedua ujung jari kaki.
Sujud adalah konsep merendahkan diri, memuji Allah dan meminta segala macam permintaan kepada Allah. Sekaligus, mengikis sifat sombong, riya', takabur, dll.

Dr. Fidelma O'Leary, Phd Neuroscience dari St Edward's University, telah menjadi mu'allaf, karena mendapati fakta tentang manfaat sujud bagi kesehatan.
Dalam kajiannya ditemukan bahwa ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah, dan urat ini baru bias dimasuki darah ketika manusia bersujud.
Tetapi urat syaraf ini hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja, yaitu pada waktu-waktu sholat yang telah ditetapkan Islam (shubuh, dzuhur, 'ashar, maghrib, Isya').

SubhanAllah...
Jadi, siapa yang tidak shalat maka urat ini tidak menerima darah sehingga otaknya tidak berfungsi secara normal. Salah satu indikasinya adalah timbul macam-macam gejala sosial di masyarakat yang dalam kesehariannya tidak melakukan shalat saat ini.

Karena letak otak di atas jantung, maka kata Prof Hembing, jantung hanya mampu membekalkan 20% darah ke otak manusia, Maka dibantu lagi dengan sujud yang lebih lama agar menambah kekuatan aliran darah ke otak.
Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah, supaya kita sujud berlama-lama pada raka'at terakhir.
Manfaat sujud berlama-lama ini, untuk menolak pening, dan migrain, menyegarkan otak,menajamkan akal pikiran (peka), melegakan sistim pernapasan, membetulkan pundi peranakan yang jatuh, memperbaiki kedudukan bayi sungsang, dll.

Dan yang menakjubkan, jika kita memperhatikan, bentuk syaraf yang ada dalam otak kita berbentuk seperti orang yang bersujud...

Bagaimana wanita bisa bersedekah, sedang mayoritas mereka adalah ibu rumah tangga dan mereka juga tidak punya gaji atau gaji tidak seberapa untuk disedekahkan?

Ketika seorang wanita mendengar tentang keutamaan sedekah, tentu wanita itu merasa perih dan berandai seraya berkata: "Bagaimana, sedangkan aku tak memiliki uang?"

Kendati demikian, para segenap wanita diperintahkan untuk bersedekah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Wahai segenap wanita, bersedekahlah, dan perbanyaklah istighfar, sebab aku melihat kalian sebagian mayoritas penghuni neraka."

Dan sabda beliau itu tentu akan menambah khawatir dan rasa takut pada diri wanita.

Dan bagaimana solusinya?

Sebenarnya mudah, sesungguhnya karunia dan kemurahan Allah swt begitu luas dan tiada henti. Dia menjadikan sedekah bukan hanya sebatas harta. Namun, setiap pintu kebaikan adalah sedekah.

Berikut contoh-contoh yang menunjukkan bahwa sedekah itu beranekaragam:
  1. Setiap tasbih dan tahmid adalah sedekah.
  2. Setiap takbir dan tahlil adalah sedekah.
  3. Amar ma'rufnahimunkar (menganjurkan yang baik dan mencegah yang buruk) adalah sedekah.
  4. Senyum wanita kepada suami dan anak-anaknya, serta kepada sesama kaum muslimat adalah sedekah.
  5. Dua rakaat dhuha menyamai 360 sedekah.
  6. Menahan diri dari keinginan untuk berbuat buruk, itupun sedekah.
  7. Singkirkanlah setiap bentuk gangguan yang dapat mencelakakan orang di jalan, itupun sedekah.
  8. Mengucapkanlah salam kepada siapa saja yang ditemui, itupun sedekah.
  9. Berilah makan burung atau binatang lainnya atau manusia, itupun sedekah.
  10. Memuliakanlah tamu di rumah yang melebihi 3 hari, itupun sedekah.
  11. Berusahalah menolong dan membantu orang lain, baik dengan materi maupun non materi, itupun sedekah.
  12. Tuntutlah ilmu agama, ajarkan dan sebarkan, baik dengan cara mendengar, membaca, atau menulis sesuai kemampuan, itupun sedekah.
  13. Memberi seteguk air untuk orang yang haus adalah sedekah.

Sebelum hari kiamat itu benar-benar datang dan terjadi, maka akan terdapat tanda-tanda yang berupa berbagai macam peristiwa dan kejadian. Adapun tanda-tanda akan terjadinya kiamat itu sendiri terdiri dari 2 kelompok.

Tanda-tanda kecil datangnya hari kiamat.
Yang pertama adalah merupakan tanda-tanda kecil, yaitu menandakan sekalipun saat datangnya hari kiamat sudah dekat, tapi masih agak lama juga. Tanda-tanda kecil ini diantaranya sudah nampak kita saksikan dan kita alami sekarang.

Hal ini telah nyata disebutkan dengan tegas di dalam sebuah Hadits, bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad saw. keluar di hadapan orang banyak, lalu beliau didatangi malaikat Jibril seraya Jibril berkata: "Wahai Rasulullah, kapan saat datangnya hari kiamat?" Rasulullah menjawab: "Orang-orang yang ditanya itu tentunya tidak lebih mengerti dari orang yang bertanya". Namun demikian saya akan memberitahukan kepada anda tentang tanda-tandanya, yaitu;
    • Apabila perempuan budak telah melahirkan tuannya, itulah setengah dari tanda-tandanya; jika orang-orang yang telanjang kaki juga telanjang tubuhnya serta pekerjaannya pengembala kambing tiba-tiba menjadi kepala-kepala orang banyak, itu juga setengah dari tanda-tandanya; dan apabila pengembala kambing itu bermegah-megah di dalam gedung-gedung besar, itulah setengah dari tanda-tandanya. (HR. Ibnu Abi Syaibah dari Abi Hurairah)
Dalam hadits lain yang diberitakan oleh Anas ra. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
    • Bahwasanya setengah dari tanda-tanda hari kiamat ialah: ilmu diangkat; tampaknya kebodohan; perzinaan tersebar luas; khamr (arak ~ minuman keras) diminum (dengan leluasa bahkan sebagai kebanggaan); orang laki-laki pada pergi (banyak laki-laki yang mati dan bayi laki-laki sangat sedikit yang lahir); kaum wanita banyak jumlahnya, sehingga dalam 50 wanita hanya ada seorang pria.
Dari pengertian kedua hadits tersebut memberikan pengertian bahwa diantara tanda-tanda kecil yang menandakan akan datangnya dan terjadinya hari kiamat adalah:
  1. Seorang hamba sahaya perempuan dikawini tuannya.
  2. Orang-orang miskin dan pekerjaanya mengembala kambing tiba-tiba menjadi para pemimpin.
  3. Para pengembala pada hidup bermegah-megahan di gedung-gedung basar dan tinggi.
  4. Ilmu agama sudak tidak dianggap penting lagi.
  5. Tersebarnya perzinaan karena memperoleh izin resmi untuk didirikan tempat pelacuran/perzinaan dari masing-masing pemerintah yang bersangkutan.
  6. Segala minuman keras seperti khamr (arak) bisa diminum dengan leluasa dan bebas, peminumnya sudah tidak mengenal dosa, bahkan menjadi suatu kebanggaan.
  7. Jumlah laki-laki lebih sedikit karena sedikitnya bayi laki-laki yang dilahirkan dan banyak kaum laki-laki yang mati, sehingga jumlah wanita melebihi kaum laki-laki dengan perbandingan 50 banding 1.
Tanda-tanda besar datangnya hari kiamat.
Yang kedua adalah merupakan tanda-tanda yang besar. Jadi sesudah adanya tanda-tanda tersebut, maka hari kiamat sudah sangat dekat sekali datangnya. Maka di saat itulah akan terjadi berbagai macam peristiwa dan kejadian serta perubahan-perubahan yang sangat besar seperti peredaran alam sudah berubah.

Inilah tanda-tanda besar menjelang hari kiamat:
  1. Matahari terbit dan muncul dari arah barat.
  2. Adanya binatang ajaib yang muncul, binatang itu dapat berbicara (lihat surat An-Nahl ayat 82).
  3. Keluarnya Imam Mahdi.
  4. Keluarnya Dajjal.
  5. Keluarnya bangsa Ya'juj Ma'juj.
  6. Turunya Nabi Isa as.
  7. Keluarnya asap.
  8. Rusaknya Ka'bah.
  9. Lenyapnya Al-Quran dari Mushaf.
  10. Seluruh manusia di dunia menjadi kafir semuanya.

Pertanyaan tentang kapan datangnya hari kiamat itu? Adalah sama halnya dengan pertanyaan kapan kita akan mati?
Setiap orang pasti tidak tahu kapan maut akan datang kepada dirinya. Masih lamakah, atau sudah dekatkah, Hari apa, jam berapa, dimana? Semua orang pasti tidak tahu. Begitu juga halnya dengan kapan datangnya hari kiamat. Berapa hari lagi?, Berapa minggu lagi? Berapa bulan lagi? Berapa tahun lagi? Atau berapa abad lagi? Tak seorangpun tidak ada yang tahu. Yang mengetahui kapan akan datangnya hari kiamat hanya Allah semata.


Mati adalah sesuatu hal yang berkaitan erat dengan diri kita. Tapi kita sendiri sama sekali tidak mengetahuinya, kapan hari apa, jam berapa, tanggal berapa, dimana dan tahun berapa kita akan mati. Walaupun demikian kita mutlak mempercayai bahwa diri kita pasti akan mati.
Apalagi persoalan kapan datangnya hari kiamat, siapapun tidak ada yang tahu. Sedangkan Rasulullah saw, pernah ditanya para sahabat tentang datangnya hari kiamat itu kapan, beliau juga tidak tahu.

Persoalan datangnya hari kiamat itu bukan urusan manusia, bukan urusan Nabi dan Rasul dan bukan urusan Malaikat sekalipun. Tapi pengetahuan datangnya hari kiamat adalah urusan Allah, untuk itu kita tidak perlu mempersoalkannya sampai bertele-tele. Sedangkan yang mutlak melekat dengan diri kita sendiri, yaitu maut, kita sendiri tidak akan pernah bisa mengetahuinya.

Persoalan tentang hari kiamat Allah swt, telah menjelaskan dengan tegas di dalam Al-Quran sebagaimana Firman-Nya dalam surat: Al-A'raaf 187, Al-Ahzab 63, Luqman 34, Fush-Shilat 47, Al-Anbiya' 1, dan Al-Qamar 1.

Dimana dalam Firman Allah yang tersebut di atas, memberikan pengertian kepada kita, bahwa:
  1. Para manusia (sahabat) bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang hari kiamat.
  2. Nabi Muhammad saw. memberikan jawaban, bahwa persoalan datangnya hari kiamat adalah dalam pengetahuan Allah sendiri.
  3. Siapapun tidak dapat menjelaskan kedatangannya, hingga hari kiamat itu sendiri datang.
  4. Huru-hara hari kiamat itu amat berat sekali bagi seluruh makhluk di langit dan di bumi.
  5. Hari kiamat itu akan datang secara mendadak dan tiba-tiba.
  6. Boleh jadi kiamat sudah dekat waktunya dan hampir datang.

Selain berpuasa di bulan Ramadan, ajaran agama Islam juga menganjurkan kepada umatnya untuk berpuasa pada hari-hari biasa atau bukan di bulan Ramadhan. Berbeda dengan puasa di bulan Ramadhan yang hukumnya wajib dilaksanakan, maka puasa di luar bulan Ramadhan hukumnya sunnah, yang artinya berpahala ketika dikerjakan dan tidak berdosa apabila tidak melaksanakannya.

Puasa sunnah sebaiknya dilakukan pada hari-hari yang telah ditentukan, hal ini berkenaan dengan istilah puasa itu sendiri.

Berikut ini adalah bermacam puasa sunnah yang dapat dilakukan sesuai dengan hari-hari yang ditentukan:

1. Puasa 6 hari di bulan Syawal.
Puasa sunnah ini dilakukan di bulan Syawal selama enam hari, baik itu secara berturut-turut ataupun tidak.
Puasa enam ini dilakukan berdasarkan dari hadist Nabi:
“barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, lalu menyambungnya dengan enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim: 1164 )
Adapun sebab mengapa Rasulullah menyamakannya dengan puasa setahun lamanya, telah disebutkan oleh Imam Nawawi bahwa beliau berkata:
“berkata para ulama: sesungguhnya amalan tersebut sama kedudukannya dengan puasa sepanjang tahun, sebab satu kebaikannya nilainya sama dengan sepuluh kali lipat, maka bulan Ramadhan sama seperti 10 bulan, dan enam hari sama seperti dua bulan.” (Syarah Nawawi:8/56)

2. Puasa Hari Arafah
Puasa sunnah ini dilakukan pada hari ke-9 bulan di bulan Dzuhijjah.
Puasa hari Arafah ini dikenal dengan keutamaannya yaitu: "akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang." (HR. Muslim). Yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya bisa dihapus dengan jalan bertaubat.

3. Puasa Nabi Daud
Puasa sunnah ini adalah puasa yang dilakukan oleh nabi Daud. Puasa ini dilaksanakan secara berselang hari, satu hari puasa, satu hari tidak.
Berdasarkan hadits yang datang dari Abdullah bin Amr bin ‘Al-Ash bahwa Rasulullah bersabda:
“Puasa yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah puasa Daud, beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Dawud, beliau tidur dipertengahan malam, lalu bangun (shalat) pada sepertiga malam, dan tidur pada seperenamnya.” (HR.Bukhari :3238,dan Muslim:1159)

4. Puasa Senin dan Kamis
Puasa sunnah ini dilakukan pada setiap hari Senin dan Kamis.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Lalu ada yang bertanya: sesungguhnya engkau senantiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis? Beliau menjawab:
“Dibuka pintu-pintu surga pada hari Senin dan Kamis, lalu diampuni (dosa) setiap orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali dua orang yang saling bertikai, dikatakan: biarkan mereka berdua sampai keduanya berbaikan.” (HR.Tirmidzi (2023),Ibnu Majah (1740),dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi dan Ibnu Majah)

5. Puasa 3 hari dalam sebulan
Berdasarkan hadits Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah berkata kepadanya:
“Dan sesungguhnya cukup bagimu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, karena sesungguhnya bagimu pada setiap kebaikan mendapat sepuluh kali semisalnya, maka itu sama dengan berpuasa setahun penuh.” (HR.Bukhari:1874,Muslim:1159)

6. Puasa di bulan Muharam
Puasa sunnah ini dilakukan di bulan Muharam dan yang paling diutamakan adalah pada tanggal 10 Muharam yang dikenal sebagai hari Asyura.
Dalam riwayat Muslim dari hadits Abu Qatadah bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura,maka beliau menjawab:
“Menghapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR.Muslim:1162)

7. Puasa di bulan Sya'ban.
Bulan selain bulan Ramadhan yang dianjurkan memperbanyak puasa adalah di bulan Sya’ban. Berdasarkan hadits Aisyah bahwa beliau berkata:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari bulan Sya’ban,” (HR.Bukhari:1868)

Tanpa disadari atau tidak, begitulah cara Islam untuk menjaga umatnya untuk selalu melaksanakan kehidupan ini dengan baik dan dalam keadaan selalu bertaqwa kepada Allah Swt. Karena dengan melakukan puasa sunnah seperti yang dianjurkan di atas, maka dapat dibayangkan bahwa umat Islam yang melaksanakan tentu hari-harinya diisi dengan beribadah karena ia dalam kondisi berpuasa.

Agama Islam tidak semata menyuruh umat muslim hanya kerjanya beribadah untuk akhirat saja. Agama Islam tidak melarang umat manusia untuk mendapatkan hidup yang bahagia di dunia ini. Bahkan ajaran agama Islam memberikan petunjuk atau jalan bagaimana supaya hidup bahagia di dunia dan dapat dinikmati oleh kaum muslimin.



Adapun petunjuk atau jalan yang dianjurkan agama Islam kepada umatnya untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dapat diraih dengan cara berikut:
  1. Ilmu
  2. Ibadah
  3. Rezeki yang halal
  4. Sabar
  5. Bersyukur

1. Ilmu
Untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia, Islam menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu atau belajar. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang maka ia akan bisa mendapat pekerjaan berdasarkan ilmu yang ia miliki itu. Semakin pandai atau semakin banyak ilmu seseorang maka akan semakin mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Tentu ini akan bisa membuat hidupnya akan bahagia dari hasil pekerjaannya itu bisa membiayai segala kebutuhan hidupnya.

2. Ibadah
Ketika seseorang telah berilmu dan berpengetahuan yang luas, diharapkan ia akan semakin rajin pula beribadah.
Dengan ilmu pengetahuan mengenai agama yang ia miliki, tentu ia mengetahui betapa sengsaranya hidup di neraka nanti dan begitu senangnya hidup di surga. Dengan demikian ia akan semakin rajin beribadah untuk bisa menjadi penghuni surga. Dan ketika beribadah tersebut ia akan mendapatkan ketentraman jiwa, dan ketentraman jiwa itu adalah sebuah kebahagiaan yang dinikmati di dunia.

3. Rezeki Yang Halal
Cara untuk mendapatkan hidup yang bahagia di dunia adalah dengan cara mencari rezeki yang halal.
Ketika seseorang mencari rezeki dengan cara yang tidak halal maka ia tidak akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya di dunia.
Misalnya:
Ketika seorang koruptor yang tertangkap dan kemudian dimasukkan dalam penjara. Maka jelas terlihat bahwa ia sudah tidak mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia.

4. Sabar
Jalan lain yang diajarkan oleh agama Islam kepada umatnya adalah Sabar. Bersabar ketika mendapat cobaan. Apabila seseorang bisa bersabar ketika menghadapi cobaan maka dipastikan ia akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia ini.


5. Bersyukur
Jalan yang terakhir yang dianjurkan dalam agama Islam untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia adalah dengan cara bersyukur.
Bersyukur ketika mendapat rezeki yang diberikan Allah swt dan selalu bersyukur karena telah diberi rahmat olehNya.
Apakah anda tidak merasa bahagia ketika anda telah bersyukur kepada Allah swt yang telah memberikan kehidupan yang serba berkecukupan kepada anda?

Setelah kejadian di dalam Gua Hira, Muhammad saw telah resmi menjadi Nabi dan Rasul Allah maka Nabi Muhammad saw. mulai menjalankan tugas kenabiannya. Beliau menyerukan beberapa hal kepada kaum atau umatnya.

Adapun yang diserukan Nabi Muhammad saw. kepada umat manusia adalah:
  1. Mengesakan Allah (tauhid) mutlak.
  2. Mempercayai adanya kehidupan Akhirat.
  3. Pembersihan jiwa.
  4. Memelihara kehidupan masyarakat Islam
1. Mengesakan Allah (tauhid) mutlak.
Manusia bukanlah budak/hamba apapun di buni atau langit, karena semua yang ada di bumi dan langit adalah makhluk ciptaan Allah, rendah dan kecil di hadapan Allah dan tunduk kepada ketentuan hukumNya. Diserukan kepada manusia untuk sadar bahwa antara Allah dan manusia tidak ada pihak ketiga / sekutu / pembantu / perantara. Setiap manusia berhak berhubungan langsung dengan Tuhannya tanpa memerlukan patung-patung. Manusia-manusia yang dijadikan sesembahan oleh agama lain dikembalikan kepada kedudukannya semula. Sebagai manusia mereka bukan lain adalah hamba-hamba Allah yang menciptakan mereka. Hubungan-hubungan individual dan sosial ditegakkan atas dasar prinsip mengesakan (tauhid) Allah secara sempurna.

2. Mempercayai adanya kehidupan Akhirat.
Pada suatu saat akan tiba saat yang tidak diragukan lagi, dimana semua manusia akan dihadapkan pada Tuhannya. Pada hari itu hanya tersedia 2 tempat: Surga tempat orang-orang yang saleh bergembira dan beristirahat, atau Neraka tempat orang-orang jahat menderita kepedihan dan kesedihan.
Ingat kepada kehidupan akhirat dalam setiap perbuatan akan dihitung. Seorang muslim akan menyadari bahwa hari-hari yang silih berganti, pada suatu saat akan berhenti dan dirinya akan kembali pada Tuhannya.

3. Pembersihan Jiwa.
Jalankanlah ibadah Allah dengan meninggalkan urusan-urusan lain. Janganlah menyekutukan sesuatu dengan Dia. Berbuat baiklah terhadap kedua orang tua. Jangan bunuh anak-anak karena miskin.


4. Memelihara kehidupan masyarakat Islam
Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) diwajibkan dalam bentuk membela orang yangteraniaya. Abu Bakar selalu menolong orang muslim yang lemah yang disiksa tanpa menghitung-hitung tenaga dan harta. Itulah kewajiban individu terhadap masyarakat

Itulah seruan yang disampaikan Nabi Muhammad saw kepada umat manusia pada masa itu. Sehingga bisa dikatakan, seandainya yang dibawa oleh Muhammad saw. itu bukan suatu agama, itu tetap baik bagi perangai manusia.

Menginjak usia 40 tahun, pandangan, pengamatan dan perenungan tentang kehidupan yang terus-menerus dilakukan Muhammad saw. membuat beliau semakin berbeda dan terpisah pola pikiran dengan kaumnya. Hal itu yang menyebabkan beliau sering menyendiri. Kisah tentang Muhammad pada usia ini banyak dikenal dengan peristiwa kejadian di Gua Hira.

Kebiasaan setiap tahun Muhammad saw meninggalkan Makkah untuk menghabiskan bulan Ramadhan menyendiri di dalam Gua Hira, yaitu sebuah goa yang berada beberapa mil dari Makkah dan jauh dari daerah yang ramai dan terletak di puncak bukit.
Di dalam gua yang sunyi dan hening itulah Muhammad saw bersembah sujud, mengasah hati, menjernihkan roh dan jiwa, mendekatkan diri dari kebenaran dan menjauhkan diri dari kebatilan dengan segala kemampuan dan kesanggupannya.
Sampailah pada suatu ketika dimana beliau melihat sebuah cahaya terang namun tidak menyilaukan mata. Kemudian beliau mendengar suara (malaikat) berkata: "Bacalah..." Beliau menjawab: "Aku tidak dapat membaca." Malaikat itu mengulang-ulang perintahnya sambil membekap beliau sampai-sampai sesak nafasnya. Dan beliaupun mengulang-ulang jawabannya. Inilah yang kemudian dikenal menjadi ayat-ayat Al-Quran yang turun pertama kali.

Setelah peristiwa itu dengan badan yang gemetar, Muhammad saw pulang dan sesampai di rumah beliau minta diselimutkan oleh istrinya Sitti Khadijah. Dan kemudian setelah tenang perasaannya belaiupun menceritakan tentang apa yang dialaminya di dalam Gua Hira dan merasa khawatir akan terjadi sesuatu pada diri beliau. Sitti Khadijah menanggapi cerita yang belaiu sampaikan dan mengatakan bahwa beliau tidak perlu mengkhawatirkan itu.

Beberapa waktu setelah kejadian di Gua Hira itu, Sitti Khadijah mengajak Muhammad saw. pergi menemui Waraqah bin Naufal, salah seorang anak paman Sitti Khadijah. Kepada Waraqah bin Naufal, Muhammad menceritakan kejadian yang dialaminya dalam Gua Hira itu. Waraqah berkata: "Itulah malaikat yang diturunkan Allah kepada Musa ... Alangkah bahagianya seandainya aku masih muda...! Alangkah gembiranya seandainya aku masih hidup pada saat anda diusir dari kaum anda...! Beliaupun bertanya: "Apakah mereka akan mengusir aku?" Waraqah menyahut: "Ya. Belum pernah ada orang datang membawa seperti yang anda bawa itu yang tidak dimusuhi. Seandainya kelak aku masih hidup dan mengalami saat kenabian anda, pasti anda kubantu sekuat-kuatnya."

Kisah tentang orang-orang yang mencari kebenaran pada masa sebelum Muhammad saw. diangkat menjadi Nabi sangat banyak dijumpai. Namun yang paling sering dibicarakan kisahnya adalah kisah Zaid bin 'Amr bin Nufail, dimana beliau sampai ke negeri Syam untuk mencari kebenaran atau agama yang akan dipeluknya.

Sampai di negeri Syam, Zaid bin 'Amr bin Nufail bertemu dengan ulama Yahudi dan bertanya pada Yahudi itu:
Zaid bin 'Amr bin Nufail: "Apa agamamu?... Mungkin aku akan memeluk agamamu"
Ulama Yahudi: "Janganlah anda memeluk agama kami, agar anda tidak kecipratan murka Tuhan!"
Zaid bin 'Amr bin Nufail: "Saya selalu menjauhkan diri dari murka Tuhan.,,, Apakah anda dapat menunjukkan agama lain?
Ulama Yahudi: " Saya tidak tahu, saya anjurkan supaya anda menjadi seorang Hanif"
Zaid bin 'Amr bin Nufail: "Apakah Hanif itu?"
Ulama Yahudi: "Penganut agama Ibrahim. Ibrahim bukan orang Yahudi, bukan orang Nasrani dan ia tidak bersembah sujud selain kepada Allah"
Karena tidak mendapat jawaban tentang kebenaran, Zaid bin 'Amr bin Nufail melanjutkan dan bertemu dengan pendeta Nasrani. Beliau pun bertanya kepada pendeta itu. Jawaban yang diterima beliaupun sama dengan jawaban yang diterima dari ulama Yahudi yaitu melarang memeluk agamanya dan menyarankan untuk menjadi seorang Hanif.

Dan akhirnya Zaid bin 'Amr bin Nufail pergi meninggalkan pendeta itu sambil mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan kesaksian: "Ya Allah, saya bersaksi bahwa saya memeluk agama Ibrahim as.!"

Kenapa ulama Yahudi dan pendeta Nasrani itu melarang Zaid bin 'Amr bin Nufail untuk memeluk agama yang mereka anut?

Memang pada masa itu mereka berada dalam keadaan kebingungan tentang kehidupan di bumi ini.

Orang Yahudi merasa hidup sebagai buronan di muka bumi dan dibuang ke berbagai penjuru dunia.

Sedangkan orang Nasrani berada di dalam kondisi perpecahan yang berselisih pendapat mengenai sifat Al-Masih, mengenai kedudukannya dan kedudukan bundanya di sisi Tuhan Yang Maha Besar.
Orang Nasrani di negeri Syam yang ditanya Zaid bin 'Amr bin Nufail adalah golongan Jacobian. Mereka tidak sepaham dengan aliran resmi yang dianut oleh gereja Romawi.

Begitulah keadaan kehidupan manusia pada masa itu (sebelum pengangkatan nabi). Mereka berada pada keadaa yang membingungkan. Seperti yang dialami oleh Zaid bin 'Amr bin Nufail, dimana ia berusaha mencari kebenaran sampai ke negeri Syam. Dan akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa tiada laian yang patut disembah selain Allah.

Berita tentang perjalanan Nabi Muhammad saw. ke negeri Syam dan kemudian bertemu dengan pendeta Bahira banyak disebut dalam buku riwayat tentang Islam.  Disebutkan bahwa dalam perjalanan ke Syam bersama pamannya Abu Thalib itu beliau bertemu dengan seorang pendeta nasrani  yang bernama Bahira.

Pada saat bertemu dengan Muhammad saw. pendeta Bahira merasa melihat tanda-tanda kenabian ada pada wajah dan kedua bahu Muhammad saw. Pendeta Bahira bertanya kepada Abu Thalib: "Apa hubungan anak ini dengan anda?"
Dijawab oleh Abu Thalib: "Dia anakku!"
Pendeta Bahira menyangkal: "Tidak mungkin ayah anak ini masih hidup!"
Abu Thalib menerangkan: "Dia anak saudaraku. Ayahnya meninggal dunia di saat dia masih dalam kandungan ibunya." Kemudian, Bahira menyarankan: "Anda benar, ajaklah ia pulang ke negeri anda dan hati-hatilah terhadap orang-orang Yahudi.


Kebenaran berita pendeta Bahira yang melihat tanda-tanda kenabian ini bisa diperkuat dengan adanya berita akan datang seorang Nabi setelah Nabi Isa as. terdapat di dalam kitab suci kaum Nasrani. Sejak mereka mendustakan berita akan datangnya seorang nabi dan rasul yang bernama Muhammad saw., mereka sebenarnya menanti-nantikan kedatangan nabi yang dijanjikan, tapi itu mereka tutupi dengan mengatakan bahwa nabi yang dijanjikan itu tidak akan datang selama-lamanya...
Tetapi ternyata ia sekarang telah datang sebagai kenyataan...!

Semenjak dari bayi sampai masa kanak-kanaknya Nabi Muhammad saw. tinggal bersama keluarga Halimah dari kaum Bani Sa'ad. Hal ini seiring dengan kebiasaan bagsa Arab pada saat itu, dimana para bayi-bayi yang lahir disusui oleh kaum wanita dari daerah pedesaan.
Selama lima tahun tinggal bersama kaum Bani Sa'ad, beliau tumbuh sehat. Pada masa ini hal yang istimewa yang dialami Nabi Muhammad saw. yang dikenal dengan "Peristiwa Pembedahan Dada Nabi Muhammad".

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas mengatakan, peristiwa pembedahan dada Nabi Muhammad saw itu terjadi ketika beliau sedang bermain-main bersama teman-temannya.. Malaikat Jibril mendatangi Muhammad saw. kemudian mengajaknya pergi, lalu dibaringkan, kemudian dibedah dadanya dan dikeluarkan hatinya. Dari hati beliau diambil segumpal darah (berwarna hitam), kemudian Malaikat Jibril berkata: "Inilah bagian setan yang ada di dalam tubuhmu!". Lalu hati dicuci dengan air Zamzam. Setelah itu diletakkan kembali ke dalam dada beliau dan kemudian dada beliau ditutup lagi.

Pada peristiwa pembedahan dada Nabi Muhammad saw. ini, anak-anak lain yang bermain bersama beliau tadi berlarian menemui ibu susuan beliau (Halimah) memberitahukan bahwa Muhammad saw. mati dibunuh orang. Semua anggota keluarga datang ke tempat beliau, dan mereka melihat Muhammad saw. dalam keadaan muka pucat pasi.

Hikmah yang diambil dari peristiwa pembedahan dada Nabi Muhammad saw. ini adalah menyatakan bahwa Allah tidak akan membiarkan manusia istimewa seperti Nabi Muhammad saw. menjadi manusia pada umumnya. Sejak berusia masih kanak-kanak beliau diselamatkan dari berbagai macam kekurangan dan keburukan yang biasanya ada pada tabiat manusia umumnya.

Nabi Muhammad saw. dilahirkan dari lingkungan keluarga yang bersih dan suci serta mempunyai silsilah kehormatan. Yaitu keluarga yang menjadi pusat segala keutamaan orang-orang Arab dan bersih dari noda apa pun juga.
Akan tetapi Nabi Muhammad saw. walaupun beliau berasal dari keturunan yang mulia, beliau tidak memiliki kekayaan. Sedikit harta yang dimilikinya dan kemuliaan asal-usul keturunannya saja yang membuat beliau sejak pertumbuhannya mempunyai keutamaan lebih banyak daripada semua keutamaan yang dimiliki oleh lapisan-lapisan masyarakat yang lain.

Dimasa kelahiran Nabi Muhammad saw. Abdul Muththalib, kakek Nabi Muhammad saw. adalah seorang penguasa Makkah, tetapi kekuasaan yang berada di tangannya itu merupakan kekuasaan yang terakhir dan tidak menurun ke anak-cucunya. Karena kedudukan orang-orang yang menyainginya semakin kuat (karena banyak hartanya), kepemimpinan Abdul Muththalib pasti akan pindah ke tangan mereka.
Abdullah, ayah Nabi Muhammad saw. adalah anak bungsu Abdul Muththalib. Beliau dinikahkan oleh ayahnya dengan Aminah binti Wahb dari kaum Bani Sa'ad. Masih dalam keadaan sebagai pengantin baru dengan Aminah, beliau meninggalkan keluarganya merantau untuk mencari rezeki. Pada masa itu ia pergi ke negeri Syam, tapi ternyata kepergiannya ke negeri Syam itu merupakan kepergiannya untuk selamanya. Karena ketika dalam perjalanan pulang ke Makkah di mana Aminah sudah menanti kedatangan suami dengan kabar gembira bahwa ia sedang mengandung dan sebentar lagi akan melahirkan, beliau jatuh sakit dan singgah di Madinah dan kemudian wafat di sana.

Nabi Muhammad saw. lahir sebagai seorang anak yatim, karena ayahnya telah tiada ketika ia dilahirkan. Beliau lahir di Makkah dan sangat disambut dengan suka cita oleh kakeknya (Abdul Muthathalib). Nama "Muhammad" yang menjadi nama beliau adalah pilihan Abdul Muththalib, dimana belum ada satu orang pun sebelumnya memakai nama ini. Arti "Muhammad" dalam bahasa Arab adalah orang yang terpuji.

Pada masa kelahiran nabi Muhammad saw. bangsa Arab mempunyai tradisi atau kebiasaan yang menyusui bayi-bayi Makkah adalah wanita Arab dari daerah gurun yang berharap dengan menyusui bayi-bayi itu mereka akan mendapat imbalan yang dapat menopang hidup mereka. Tentu sasarannya adalah bayi-bayi dari golongan orang kaya. Hal inilah yang membuat cemas Aminah karena Muhammad saw. bukanlah anak orang kaya, bahkan tidak punya ayah (yatim), tentu tidak ada mau menyusuinya. Halimah binti Abi Dzuaib mau mengambil Muhammad saw. sebagai anak susuannya walaupun pada mulanya ia merasa enggan karena tidak ada bisa diharap dari keluarga Muhammad saw.
Dengan kehadiran Muhammad saw. dalam keluarganya, Halimah merasa mendapat berkah, padahal sebelumnya ia hidup serba menderita dan serba kekurangan. Setelah menyusui Muhammad saw. kambing perahannya banyak mengeluarkan susu perahannya sehingga dapat mencukupi biaya kehidupan yang selama ini serba kekurangan.